Bisnis

Sukanto Tanoto Mau Mengikuti Pasar Demi Keberhasilan

Pengusaha Sukanto Tanoto mampu membesarkan Royal Golden Eagle menjadi korporasi kelas internasional dengan aset 18 miliar dolar Amerika Serikat. Keberhasilan itu tidak terlepas dari kemampuannya untuk terus mengikuti kemauan pasar.

Sudah menjadi prinsip dasar dalam bisnis bahwa kehendak pasar mesti diikuti. Perusahaan diharapkan terus mau mendengarkan dan melayani kebutuhan konsumennya. Tanpa itu, mustahil sebuah usaha akan mampu bertahan.

RGE di bawah kendali Sukanto Tanoto sanggup melakukannya dengan baik. Mereka selalu bisa mengendus keberadaan pasar terbaik. Ketika sudah mengetahuinya, grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas itu segera mengikutinya.

Ternyata kemampuan itu tak lepas dari arahan Sukanto Tanoto. Pendiri sekaligus chairman RGE ini memang selalu melihat ke pasar sebelum mengambil putusan. Tidak heran, RGE bisa berkembang pesat.

“Anda harus bisa melihat ke mana pasar yang harus dituju,” jelas Sukanto Tanoto.

Sejak awal memulai bisnis di RGE, Sukanto Tanoto telah mengikuti pasar. Saat ini, perusahaannya ini menekuni berbagai bidang bisnis berbasis pemanfaatan sumber daya yang berbeda-beda. Hal itu semata-mata karena RGE hendak memenuhi kebutuhan pasar.

Sekarang RGE punya anak perusahaan di sektor kelapa sawit, selulosa spesial, pulp dan kertas, viscose fibre, serta minyak dan gas. Setiap bidang industri diterjuni karena tahu ada pasar besar di sana.

Dimulai dari kelapa sawit, Sukanto Tanoto menilai prospeknya di Indonesia sangat besar. Maka, ketika orang lain belum menekuninya, ia segera berkecimpung di sana.

Sekitar tahun 1970-an, Sukanto Tanoto pergi ke Malaysia. Di sana ia mendapati banyak perkebunan kelapa sawit yang dikelola perusahaan-perusahaan asal Inggris.

Karena tertarik, Sukanto Tanoto segera mencari tahu tentang seluk-beluk industri kelapa sawit. Ia akhirnya menyadari ada pasar besar di bidang tersebut di dalam negeri.

“Saya melihat Sime Darby, Guthrie dan perusahaan kelapa sawit asal Inggris yang berhasil. Lalu, saya menyadari tanah di Indonesia lebih murah, tenaga kerja juga murah dan punya pasar 10 kali lebih besar dari Malaysia. Saya berpikir, mengapa tidak mencoba minyak kelapa sawit,” kata Sukanto Tanoto.

Pada awalnya, langkahnya mendapat cibiran. Pasalnya, bisnis kelapa sawit membutuhkan kerja keras dan kesabaran ekstra. Bagaimana tidak, untuk memulai produksi, RGE mesti membangun perkebunan dulu. Di sana kemudian ditanami kelapa sawit. Setelah itu, kebun mesti ditunggu sekitar tiga tahun sebelum bisa dipanen. Tak heran, banyak yang enggan menjalankannya.

Sukanto Tanoto tidak menampik bahwa industri kelapa sawit terbilang berat untuk dijalani. Namun, karena prospeknya besar, ia mau saja menekuninya meski harus bekerja ekstra keras.

“Kerja di kebun itu nafasnya harus panjang. Karena menanam kelapa sawit panen bisa tiga tahun paling sedikit dua tahun buah pasir jadi bisa lima tahun, harus pandai kelola cash flow-nya,” kata pria kelahiran 25 Desember 1949 ini.

Pada 1979, Sukanto Tanoto akhirnya mendirikan Asian Agri yang berkiprah di sektor kelapa sawit. Mereka membangun perkebunan pertamanya di Gunung Padang. Setelah itu, mereka terus berkembang.

Sampai sekarang, Asian Agri tercatat mengelola 160 ribu hektare lahan yang ditanami kelapa sawit. Dari luas itu, 60 ribu di antaranya dikelola oleh petani plasma. Selain itu, mereka juga menjalin kemitraan dengan petani swadaya yang mencakup lahan seluas 40 ribu hektare.

Berkat itu, Asian Agri memiliki kapasitas produksi yang tinggi. Per tahun anak perusahaan RGE ini sanggup memproduksi satu juta ton minyak kelapa sawit. Ini menjadi mereka sebagai salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di dunia.

EKSPANSI KE MINYAK DAN GAS

Dalam bidang industri lain yang ditekuni oleh RGE, hal serupa juga berlaku. Sukanto Tanoto selalu menerjuninya karena melihat pasar yang besar di sana.

Bidang pulp dan kertas menjadi contoh lain. Ia mengetahui bahwa dalam segala sendi kehidupan selalu membutuhkan kertas. Maka, ia memilih menerjuninya.

Awalnya ada kegagalan yang dialami oleh Sukanto Tanoto. Perusahaannya belum bisa menangani limbah dengan baik. Akibatnya mengalami penutupan.

Namun, gagal tidak membuatnya menyerah. Ia mencoba lagi membangun APRIL Group di Pangkalan Kerinci, Riau. Kegagalan sebelumnya malah dijadikannya pelajaran untuk membuat yang lebih baik.

Ternyata pilihannya itu berbuah manis. APRIL berkembang menjadi salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di dunia. Dalam satu tahun, mereka mampu menghasilkan pulp hingga 2,8 juta ton dan kertas sebesar 1,15 juta ton.

Langkah RGE untuk menekuni bidang bisnis terbaru, yakni minyak dan gas, juga tidak lepas dari arahan Sukanto Tanoto. Ia melihat pasar yang besar dalam industri tersebut terutama di Tiongkok.

Sukanto Tanoto mulai memikirkannya setelah melewati krisis finansial yang melanda Indonesia sejak 1997. Pada era 2000-an, RGE mulai bangkit. Saat itu, mulai mencari bidang bisnis baru untuk diversifikasi.

Sama seperti bidang lain yang sudah digeluti oleh RGE, Sukanto Tanoto memutuskannya karena melihat pasar yang besar. Industri minyak dan gas yang dijalaninya dinilai juga sama. Peluangnya amat sayang untuk dilewatkan.

Ketika itu, Sukanto Tanoto tahu bahwa Tiongkok mulai bangkit menjadi kekuatan ekonomi besar di dunia. Industrialisasi di sana terjadi secara masif. Tentu saja hal itu diiringi dengan peningkatan kebutuhan energi.

Sampai saat ini, sumber energi terbesar di Tiongkok masih ada dari batubara. Namun, Sukanto Tanoto yakin hal tersebut bakal segera berubah. Apalagi saat ini kesadaran publik terhadap kelestarian lingkungan semakin besar. Inilah yang akhirnya membuatnya mantap terjun di bisnis minyak dan gas karena hendak menyasar pasar Tiongkok yang besar.

“Tiongkok tidak bisa selamanya membakar batubara untuk menghasilkan listrik. Suatu saat Tiongkok pasti membutuhkahnya (energi bersih, Red.). Oleh sebab itu, kami bekerja sama dengan Petrol China,” ujar Sukanto Tanoto.

Langkah Sukanto Tanoto untuk memburu pasar Tiongkok cukup cepat. Anak perusahaan RGE, Pacific Oil & Gas segera bersiap. Mereka berencana menyuplai Liquified Natural Gas (LNG) dari Kanada ke Tiongkok. Segala sesuatu, mulai dari perizinan, pembangunan fasilitas, hingga pengiriman telah dipersiapkan. Alhasil, Pacific Oil & Gas menjadi pihak pertama yang mengekspor LNG dari Kanada.

“Sekarang, saya punya mimpi membangun kilang LNG di Kanada dan menjadi perusahaan pertama yang mengekspor LNG dari Kanada. Kapan lagi dalam hidup, anda memiliki peluang dengan perusahaan seperti Shell, Chevron, BP?” tandas Sukanto Tanoto.

Terlepas dari keharusan untuk selalu melihat ke mana arah pasar, Sukanto Tanoto pada dasarnya selalu berpikir positif. Ia menilai peluang sejatinya selalu ada di mana saja asalkan mau mencarinya.

“Saya selalu percaya tidak ada bisnis yang tenggelam. Semua hanya ada dalam pikiran, karena jika anda menyerah maka anda mati,” ujar sosok kelahiran Belawan ini.

Prinsip seperti ini yang membuat Sukanto Tanoto selalu bersemangat dalam menjalankan bisnis bersama RGE. Ia tidak pernah lelah mencari peluang-peluang pasar baru yang berprospek cerah.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.